14 Orang Tewas Akibat Laka Lantas Di Solsel

Kecelakaan Lalu Lintas

Solok Selatan – Sepanjang 2019 Kecelakaan Lalu Lintas (laka lantas) di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat telah menewaskan 14 orang dari 39 kasus laka lantas yang terjadi di Kabupaten tersebut.

Dilansir dari harianhaluan disebutkan oleh Kasat Lantas Polres Solsel, AKP Dwi Yulianto selain menewaskan korban, terdapat 69 orang lainnya mengalami luka ringan

Dirincikan oleh AKP Dwi Yulianto, kasus laka lantas di Solsel tiap bulan hingga (27/12). Januari terjadi 4 kasus laka lantas dengan korban sebanyak 3 meninggal dan 7 luka ringan.

Pada bulan Februari terjadi 4 kasus laka lantas, dengan 1 korban meninggal dan 6 korban mengalami luka ringan. Pada bulan Maret dilaporkan tidak terjadi laka lantas.

Pada bulan April terjadi 2 kasus laka lantas, dengan 1 korban meninggal, 3 orang mengalami luka ringan.

baca juga : warga solsel kecelakaan hebat di bungo

Pada bulan Mei dilaporkan terjadi 2 kasus, dengan 4 korban mengalami luka ringan.

Di bulan Juni terjadi 2 kasus laka lantas, dengan 3 korban yang mengalami luka ringan. Pada bulan Juli terdapat 5 kasus laka lantas, dengan 2 korban meninggal dan 9 korban mengalami luka ringan.

Di bulan Agustus mengalami kasus laka lantas tertinggi dengan 10 kasus, yang mengakibatkan 5 korban meninggal, 15 korban mengalami luka ringan.

Bulan September terjadi 2 kasus laka lantas, dengan 1 korban meninggal, 4 orang luka ringan. Di bulan Oktober terjadi 1 kasus laka lantas, dengan 3 korban luka ringan.

Pada bulan November telah terjadi 6 kasus, dengan jumlah korban 1 meninggal, 12 orang luka ringan. Dan bulan Desember 1 kasus laka lantas, dengan 3 korban luka ringan.

“total kerugian mencapai Rp. 42 juta,” ujarnya di Padang Aro, Jumat (27/12/19).

Kasat Lantas Polres Solok Selatan, AKP Dwi Yulianto

Ia menyayangkan banyaknya korban laka lantas tersebut dari kalangan pelajar dan usia produktif.

Dijelaskannya Pihak Polres Solok Selatan terus mensosialisasikan kesadaran berkendara terhadap pelajar dengan mengunjungi sekolah-sekolah mulai dari tingkat SMP-sederajat sampai tingkat SMA-sederajat. Dan sosialisasi pada tukang ojek yang mangkal.

“Selain itu juga dilakukan uji kelayakan kendaraan umum,” ucapnya.

Upaya-upaya penegakan hukum bagi pengendara juga terus dilakukan. “Untuk anak sekolah yang ditilang, maka kendaraan ditahan dan harus bersama orangtua menjemputnya. Jika kendaraan diluar spesifikasi, misal knalpot racing atau kelengkapan lainnya. Maka harus distandarkan dahulu,” katanya.

 

Komentar Sahabat

Close
%d blogger menyukai ini: